Demokrasi Di Era Digital
Pengertian
Digitalisasi Demokrasi merupakan sarana baru bagi warga negara menginterupsi pemerintah, wahana baru bagi aktivitas menggalang aspirasi, media sosialisasi program pemerintah. Digitalisasi Demokrasi tidak dapat dihindarkan, mau tidak mau setiap orang akan "dipaksa" untuk berintegrasi dan beradaptasi menjadi warga negara digital.
Meskipun digitalisasi demokrasi sudah menunjukan kemungkinan intervensi politik dari berbagai gejala dan peristiwa, wajah demokrasi dimasa depan tetap ditentukan oleh hasil dialektika warga negara dan negara. Bisa jadi, negara akan membajak ruang partisipasi digital dan tidak menutup kemungkinan ternyata warga negara hanya tetap menjadi komentator yang bersembunyi dibalik keyboard komputer.
Konsep Demokrasi Digital
Dunia virtual juga sering disebut sebagai dunia simulasi: seperti yang dihadirkan oleh sinema atau kompuetr grafik. Ada juga yang memahami dunia virtual sebagai informasi (teks) dan imagi yang dihadirkan oleh media (televisi, majalah, koran) yang dalam konteks ini merupakan (re)presentasi dari dunia aktual.
Ruang ini secara etis dan politisi memang kacau balau, tapi tak dapat dipungkiri disinilah kita mengerti secara tentatif apa itu kebebasan dalam artian anarki atau kebebasan absolut. Kebebasan dikatakan ada dalam ruang cyber karena memang dalam ruang ini tak ada relasi kekuasan yang menentukan sesuatu secara etis, estetis, dan politis. Virtualisasi kenyataan dalam sinema, televisi atau internet dalam arti tertentu memang telah mengaburkan cara pandang manusia tentang dunia. Yang aktual misalnya secara ontologis bisa melebur dengan yang virtual lewat teknologi satelit. Karena ia mempunyai efek yang cukup mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat.
Fungsi
McQuail mengemukan fungsi-fungsi media massa sebagai pemberi informasi, pemberi identitas pribadi, sarana intergrasi dan interaksi sosial dan sebagai sarana hiburan (Denis McQuail, 2000).
Fungsi lain media massa sebagai pemberi indentitas, dimana media merupakan sarana untuk meningkatkan pemahaman mengenai diri sendiri. Untuk melihat serta menilai siapa, apa, dan bagaimana diri kita, pada umumnya dibutuhkan pihak lain.
Media Digital Tradisional
Media tradisional dikenal sebagai media rakyat. Media ini sering juga disebut sebagai kesenian rakyat. Coseteng dan Nemenzo (dalam jahi, 1988) mendefinisikan media tradisional sebagai bentuk-bentuk verbal, gerakan, lisan, dan visual yang dikenal atau diakrabi rakyat, diterima oleh mereka, dan diperdengarkan atau dipertunjukan oleh dan/atau untuk mereka dengan maksud menghibur, memaklumkan, menjelaskan, mengajar, dan mendidik.
Ragam Media Tradisional:
1. Cerita prosa rakyat (mite, legenda, dongeng)
2. Ungkapan rakyat (pribahasa, pemeo, pepatah)
3. Puisi rakyat
4. Nanyian rakyat
5. Teater rakyat
6. Gerak isyarat (memicingkan mata tanda cinta)
7. Alat pengingat (mengirim sisrih berarti meminang)
8. Alat bunyi-bunyian (kentong, gong, bedug, dll)
Fungsi Media Tradisional:
1. Sebagai sistem proyeksi
2. Sebagai penguat adat masyarakat
3. Sebagai alat pendidik
4. Sebagai alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi
Media Digital Modern
Media digital modern merupakan bentuk media elektronik yang menyimpan data dalam wujud digital, bukan analog. Media digital dapat mengacu kepada aspek teknis (misalnya harddisk sebagai media penyimpanan digital) dan aspek transmisi (misalnya jaringan komputer untuk penyebaran informasi digital) namun dapat juga mengacu kepada produk akhirnya seperti vidio digital, audio digital, tanda tangan digital serta seni digital.
Contoh Media Digital Modern:
1. Youtube.com
2. Vidio.com
3. Facebook.com
4. Twitter.com
Fungsi:
1. Mendapatkan informasi terkini
2. Mencari ilmu
3. Mencari hiburan
Sumber:
https://v-class.gunadarma.ac.id/pluginfile.php/875400/mod_resource/content/1/Demokrasi%20Digital%20%28Materi%20VClass%20Pertemuan%203%29.docx.pdf
Komentar
Posting Komentar